|
|
| Penulis |
: |
Anggian Heksa Efraim Sinaga |
| Karya Ilmiah |
: |
Prosiding |
| Penerbit |
: |
Prosiding, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia |
| Tahun Terbit |
: |
2016 |
| Volume |
: |
|
| ISSN |
: |
2088-2068 |
| Halaman |
: |
31-37 |
| Kata Kunci |
: |
Peer Helping, Listening Skill, Mahasiswa |
| Abstrak |
: |
Pada situasi akademis, mahasiswa akan menghadapi tuntutan dari berbagai situasi yang pada
akhirnya menjadi suatu permasalahan yang dihadapi. Keterbatasan jumlah tenaga profesional,
seperti konselor professional dan dosen pembimbing untuk membantu mahasiswa yang
berkonsultasi menjadi faktor yang menghambat. Sebagai tenaga peer helper yang disiapkan,
perlu memiliki kemampuan dasar untuk memberikan bantuan kepada teman sebaya. Brammer
(2003) menyebutnya sebagai helping skill for understanding, yang terdiri dari listening skill,
leading skill, reflecting skill, interpreting skill, challenging skill, informing skill, dan
summarzing skill. Berdasarkan pengamatan di layanan konseling Universitas “X” Bandung
didapatkan bahwa sebagian besar staf mahasiswa sebagai calon peer helper belum memiliki
kemampuan dasar untuk memberikan bantuan kepada teman sebaya. Diberikan suatu pelatihan
pada staf mahasiswa untuk meningkatkan helping skill for understanding sebagai kemampuan
dasar membantu teman sebaya. Pelatihan dilakukan dengan menggunakan pendekatan
experiential learning. Penelitian ini menggunakan metode single group pretest-posttest design.
Pengujian terhadap skor total keterampilan helping dengan menggunakan uji beda Wilcoxon.
Subjek penelitian sebanyak 5 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan subjek
mengenai peer helping dan kemampuan subjek dalam menampilkan keterampilan listening
mengalami peningkatan yang signifikan dengan tingkat kepercayaan 95%. Aktivitas berupa
roleplay merupakan metode yang sesuai untuk memfasilitasi proses belajar pada subjek
penelitian dalam melatih keterampilan listening, dan melalui aktivitas yang berupa writing task,
group discussion, lecturing, dan task exercise merupakan metode yang sesuai untuk
memfasilitasi proses belajar subjek untuk mendapatkan pengetahuan dasar mengenai peer
helping.
|
|
| Inti Sari |
: |
Pada situasi akademis, mahasiswa akan menghadapi tuntutan dari berbagai situasi yang pada
akhirnya menjadi suatu permasalahan yang dihadapi. Keterbatasan jumlah tenaga profesional,
seperti konselor professional dan dosen pembimbing untuk membantu mahasiswa yang
berkonsultasi menjadi faktor yang menghambat. Sebagai tenaga peer helper yang disiapkan,
perlu memiliki kemampuan dasar untuk memberikan bantuan kepada teman sebaya. Brammer
(2003) menyebutnya sebagai helping skill for understanding, yang terdiri dari listening skill,
leading skill, reflecting skill, interpreting skill, challenging skill, informing skill, dan
summarzing skill. Berdasarkan pengamatan di layanan konseling Universitas “X” Bandung
didapatkan bahwa sebagian besar staf mahasiswa sebagai calon peer helper belum memiliki
kemampuan dasar untuk memberikan bantuan kepada teman sebaya. Diberikan suatu pelatihan
pada staf mahasiswa untuk meningkatkan helping skill for understanding sebagai kemampuan
dasar membantu teman sebaya. Pelatihan dilakukan dengan menggunakan pendekatan
experiential learning. Penelitian ini menggunakan metode single group pretest-posttest design.
Pengujian terhadap skor total keterampilan helping dengan menggunakan uji beda Wilcoxon.
Subjek penelitian sebanyak 5 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan subjek
mengenai peer helping dan kemampuan subjek dalam menampilkan keterampilan listening
mengalami peningkatan yang signifikan dengan tingkat kepercayaan 95%. Aktivitas berupa
roleplay merupakan metode yang sesuai untuk memfasilitasi proses belajar pada subjek
penelitian dalam melatih keterampilan listening, dan melalui aktivitas yang berupa writing task,
group discussion, lecturing, dan task exercise merupakan metode yang sesuai untuk
memfasilitasi proses belajar subjek untuk mendapatkan pengetahuan dasar mengenai peer
helping.
|
| |
|
|
|
|
| |
|
|
|