Apycom jQuery Menus
 


 

 

 

WORK FAMILY CONFLICT PADA PERAWAT HONORER DI RS X Kota Bandung
Agu 2020
Penulis : Ayu Nike Retnowati
Karya Ilmiah : Prosiding
Penerbit : Prosiding, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia
Tahun Terbit : 2020
Volume :
ISSN : ISSN 2088-2068
Halaman :
Kata Kunci : WORK FAMILY CONFLICT
Abstrak :

Wanita sebagai pekerja tidak dapat lepas dari perannya dalam keluarga, hal tersebutlah yang menjadikan wanita identik dengan peran ganda yang mereka hadapi. Keterlibatan dan komitmen waktu perempuan pada keluarga yang didasari tanggungjawab mereka terhadap tugas rumah tangga, termasuk mengurus suami dan anak membuat para wanita bekerja lebih sering mengalami konflik. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif survey, dalam penelitian ini yang menjadi populasinya adalah bagian divisi perawat RS X di Kota Bandung yang berjumlah sebanyak 80 orang perawat honorer wanita. Work family conflict yang terjadi  pada perawat honorer di RS X di Kota Bandung adalah  berada pada kategori tinggi, berdampak kepada organisasi dan hubungan berkeluarga. Dampak pada organisasi yang terjadi adalah penurunan kinerja atau ketidakmaksimalan yang dirasa para perawat dan tidak fokus dalam menjalankan tugas. Dampak  pada keluarga yang dirasakan oleh para perawat yaitu  kerenggangan hubungan dengan keluarga, kesulitan dalam menjalankan tanggung jawab dan peran dalam keluarga  dan berkurangnya waktu bersama keluarga.


Inti Sari :

Ritme kerja perawat yang memang tinggi dengan tanggung jawab yang tinggi memang dirasa cukup berat dan menyita tenaga serta pikiran. Berdasarkan kesimpulan tersebut maka saran yang dapat diberikan adalah pertama, perlu adanya biro konsultasi psikologi yang dapat disediakan rumah sakit untuk menjaga kestabilan emosi dan kesehatan mental bagi para pegawainya, karena pada dasarnya perawat merasakan ketidakmaksimalan kinerja mereka hal tersebut menandakan masih adanya kesadaran pribadi dari para perawat. Kedua, perlu adanya pemutakhiran desain pekerjaan perawat maupun pengaturan jumlah perawat dalam satu bangsal, sehingga tumpang tindih pekerjaan, beban kerja berlebihan dan ketidaksesuaian pekerjaan dapat dihindari. Ketiga, pemberian cuti dan acara khusus perlu dilakukan atau menjadi hal yang menjadi sorotan pihak manajemen rumah sakit seperti hari pertama sekolah anak, pembagian raport atau acara acara keluarga lainnya dengan mengatur rotasi shift, sehingga perawat tidak terlalu merasakan adanya kekurangan waktu bersama keluarga yang bahkan dapat menyebabkan kerenggangan dengan anggota keluarga lainnya.

     
     
Powered by Shinzo Technologies and Sidik Hanrei