Apycom jQuery Menus
 


 

 

 

PRAANGGAPAN DALAM INTERVIEWAHOK DENGAN KOMPAS TV PERIHAL “KELUARNYA AHOK DARI GERINDRA”
18
09 2017
Penulis : Dwi Pebrian Sinaga; Eline Rozaliya Winarto
Karya Ilmiah : Prosiding
Penerbit : Prosiding, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia
Tahun Terbit : 2017
Volume :
ISSN : 2088-2068
Halaman : 126-134
Kata Kunci : Teknologi, Internet, Server, Kinerja Pegawai
Abstrak :

Judul penelitian ini adalah Praanggapan dalam Interview Ahok dengan Kompas TV perihal
“Keluarnya Ahok dari Gerindra”. Interview adalah salah satu cara media mencari keterangan
akan isu tertentu langsung dari nara sumbernya. Dalam sebuah interview, nara sumber akan
ditanya begitu rupa sampai jawaban atas isu tersebut jelas kepada masyarakat dan interview
terhadap politikuslah yang paling banyak menarik perhatian masyarakat. Politikus Ahok yang
kini menjadi mantan gubernur Jakarta, ibu kota Indonesia, paling banyak menarik perhatian
masyarakat. Tidak sedikit makna tersirat terkandung dalam setiap tuturan jawaban politikus
tersebut, dan oleh karena itu praanggapan dianggap alat yang baik untuk mengetahui dasar
pembicaraan penutur. Praanggapan yang muncul dalam interview Ahok ada sebanyak 21
dengan lima jenis praanggapan yang muncul, yaitu praanggapan konterfaktual sebanyak 33.3%, diikuti oleh praanggapan eksistensial sebanyak 24%, praanggapan struktural sebanyak 19%, praanggapan leksikal sebanyak 14.3%, dan praanggapan non-faktual sebanyak 9.5%. Melalui praanggapan struktural, dapat diketahui bahwa Ahok kecewa dengan Gerindra, partai dimana dia bernaung karena partai itu menjadi salah satu yang tidak ingin dia menjadi gubernur DKI Jakarta.

 


Inti Sari :

Politikus Ahok yang
kini menjadi mantan gubernur Jakarta, ibu kota Indonesia, paling banyak menarik perhatian
masyarakat. Tidak sedikit makna tersirat terkandung dalam setiap tuturan jawaban politikus
tersebut, dan oleh karena itu praanggapan dianggap alat yang baik untuk mengetahui dasar
pembicaraan penutur. Praanggapan yang muncul dalam interview Ahok ada sebanyak 21
dengan lima jenis praanggapan yang muncul, yaitu praanggapan konterfaktual sebanyak 33.3%, diikuti oleh praanggapan eksistensial sebanyak 24%, praanggapan struktural sebanyak 19%, praanggapan leksikal sebanyak 14.3%, dan praanggapan non-faktual sebanyak 9.5%. Melalui praanggapan struktural, dapat diketahui bahwa Ahok kecewa dengan Gerindra, partai dimana dia bernaung karena partai itu menjadi salah satu yang tidak ingin dia menjadi gubernur DKI Jakarta.

     
     
Powered by Shinzo Technologies and Sidik Hanrei