Apycom jQuery Menus
 


 

 

 

“KEMERDEKAAN PERS! MENGAPA DAN UNTUK APA?” (JURNAL DEWAN PERS, EDISI: 12, SEPTEMBER 2016 OLEH: BAGIR MANAN), SEBUAH ANALISIS WACANA KRITIS
18
09 2017
Penulis : Hanafi
Karya Ilmiah : Prosiding
Penerbit : Prosiding, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia
Tahun Terbit : 2017
Volume :
ISSN : 2088-2068
Halaman : 81-88
Kata Kunci : Teknologi, Internet, Kebebasan Pers, Analisis Wacana Kritis, Kebebasan Pers, Analisis Wacana Kritis
Abstrak :

Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan tulisan Bagir Manan dalam Jurnal Pers, Edisi
September 2016 tentang “Kemerdekaan Pers Mengapa dan Untuk Apa”? Dalam memaparkan
tulisan ini digunakan metode analisis wacana kritis, khususnya dari Fair Clough yang tidak
hanya menganalisis wacana literature tetapi juga memaparkan segi deskripsi, analisis, dan
interpretasi tulisan yakni jurnal pers. Hasil kajian memberikan penjelasan mengenai arti deskripsi, analisis serta interpretasi pelaksanaan kebebasan pers di Indonesia, terutama pasca reformasi. Termasuk iklim keterbukaan media yang cenderung kebablasan, serta arogansi awak media dalam mengejawantahkan kebebasan di ranah publik dewasa ini. Beberapa temuan menyimpulkan, bahwa menghadapi pemberitaan hoax adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah sebagai pemandu dan pengarah dengan pihak media kominfo, individu serta keluarga sebagai basis sosial yang paling utama.  Dalam proses transisi menuju terbentuknya sebuah masyarakat informasi, khusus dalam konteks kekhasan masyarakat Indonesia, kita menghadapi kenyataan bahwa kemajuan teknologi dan media kominfo seringkali berimplikasi negative bagi pembangunan masyarakat bangsa berperadaban seperti yang kita cita-citakan. Meskipun tidak dapat dipungkiri kemajuan teknologi dan media kominfo juga telah banyak mendatangkan pengaruh positif bagi masyarakat kita. 
 

 


Inti Sari :

Hasil kajian memberikan penjelasan mengenai arti deskripsi, analisis serta interpretasi pelaksanaan kebebasan pers di Indonesia, terutama pasca reformasi. Termasuk iklim keterbukaan media yang cenderung kebablasan, serta arogansi awak media dalam mengejawantahkan kebebasan di ranah publik dewasa ini. Beberapa temuan menyimpulkan, bahwa menghadapi pemberitaan hoax adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah sebagai pemandu dan pengarah dengan pihak media kominfo, individu serta keluarga sebagai basis sosial yang paling utama.  Dalam proses transisi menuju terbentuknya sebuah masyarakat informasi, khusus dalam konteks kekhasan masyarakat Indonesia, kita menghadapi kenyataan bahwa kemajuan teknologi dan media kominfo seringkali berimplikasi negative bagi pembangunan masyarakat bangsa berperadaban seperti yang kita cita-citakan. Meskipun tidak dapat dipungkiri kemajuan teknologi dan media kominfo juga telah banyak mendatangkan pengaruh positif bagi masyarakat kita. 
 

     
     
Powered by Shinzo Technologies and Sidik Hanrei